Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami, maaf kalau harus menyebutkan kata-kata ‘pernah’. Karena
memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak
pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya.
Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana
yang kini berformula jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini
membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang
harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa
pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada
yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya, ya?
Aku undur diri,
atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri
untuk
menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala
masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh,
mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin
melepuh.
Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini
melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis.
Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak
seharusnya lagi kita bersama.


